MENCARI KESEGARAN HATI

Posted on October 30th, 2009 in Tak Berkategori by muthi  Tagged

Agama ini kokoh dan kuat. Masukilah dengan lunak, dan jangan sampai timbul kejenuhan dalam beribadah kepada Rabbmu.”

(Al-Baihaqi)
Maha Suci Allah yang mempergilirkan siang dan malam. Kehidupan pun menjadi dinamis, seimbang, dan berkesinambungan. Ada hamba-hamba Allah yang menghidupkan siang dan malamnya untuk senantiasa dekat dengan Yang Maha Rahman dan Rahim. Tapi, tidak sedikit yang akhirnya menjauh, dan terus menjauh.

Seperti halnya tanaman, ruhani butuh siramanSeperti itu pula siraman ruhani buat hati manusia. Tanpa kesegaran ruhani, manusia cuma sebatang pohon kering yang berjalan. Tak ada keteduhan, apalagi buah yang bisa dimanfaatkan. Hati menjadi begitu kering. Persis seperti ranting-ranting kering yang mudah terbakar.
Allah swt. memberikan teguran khusus buat mereka yang beriman. Dalam surah Al-Hadid ayat 16, Yang Maha Rahman dan Rahim berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka. Lalu, hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Hati buat orang-orang yang beriman adalah ladang yang harus dirawat dan disiram dengan zikir. Dari zikirlah, ladang hati menjadi hijau segar dan tumbuh subur. Akan banyak buah yang bisa dihasilkan. Sebaliknya, jika hati jauh dari zikir; ia akan tumbuh liar. Jangankan buah, ladang hati seperti itu akan menjadi sarang ular, kelabang dan sebagainya.

Hamba-hamba Allah yang beriman akan senantiasa menjaga kesegaran hatinya dengan lantunan zikrullah. Seperti itulah firman Allah swt. dalam surah Ar-Ra’d ayat 28. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.“

Rasulullah saw. pernah memberi nasihat, “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati.” (Bukhari dan Muslim)

Adakah Yang Tak Pernah Sombong?

Posted on October 21st, 2009 in Tak Berkategori by muthi  Tagged

Kita telah mengetahui sebab utama diusirnya iblis oleh Allah Swt dari surga-Nya? Dan mengetahui pula yang membuat iblis dimurkai Tuhan sepanjang masa…karena si iblis itu bersikap sombong kepada yang lain..Siapa yang sombong kepada selainnya berarti ia sombong kepada Allah Swt. Sang Maha Pencipta yang ada.Karena Allah Swt menilai kemuliaan dan kebaikan seseorang bukanlah dari sisi materi, tapi sisi takwanya. Selain itu, semua di hadapan-Nya itu sama. Adapun kita jadi ini-itu, hanyalah peran saja yang berbeda. Dan tahukah kita jika yang kita tekuni itu yang lebih mulia atau baik? Kalau begitu adakah di antara kita yang tak pernah sombong?

Evaluasi diri

Posted on October 21st, 2009 in Tak Berkategori by muthi  Tagged

Mengevaluasi apa yang telah kita lakukan dan persiapan untuk menggapai masa depan yang lebih baik, hal tersebut diisyaratkan oleh Allah Swt. Dalam firmannya surat al-Hasyr : (59 : 18);”Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri, mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk menata hari esok. Dan bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”


Menurut tafsir Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi dalam kitabnya Ruhul Ma’ani : “setiap perbuatan manusia yang telah dilakukan pada masa lalu, mencerminkan perbuatan dia untuk persiapan diakhirat kelak. Karena hidup didunia bagaikan satu hari dan keesokan harinya merupakan hari akherat, merugilah manusia yang tidak mengetahui tujuan utamanya”.


Jika kita berfikir tujuan utama manusia hidup didunia ialah mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal yaitu akherat, lalu sudahkah perbuatan yang telah dilakukan kita merupakan manifestasi kecintaan kita kepada Allah Swt?.


Cermin yang paling baik adalah masa lalu, setiap individu memiliki masa lalu yang baik ataupun buruk, dan sebaik-baik manusia adalah selalu mengevaluasi dengan bermuhasabah diri dalam setiap perbuatan yang telah ia lakukan. Sebagaimana pesan Sahabat Nabi Amirul Mukminin Umar bin Khottob “” Evaluasilah (Hisablah) dirimu sebelum kalian dihisab dihadapan Allah kelak”

Ketulusan Rasulullah saw

Posted on August 30th, 2009 in Tak Berkategori by muthi  Tagged

Ketika Nabi Muhammad meninggal, Abu Bakar mendatangi Aisyah dan bertanya, ”Amalan apa yang sudah dilakukan Nabi tapi belum kulakukan?” Aisyah bercerita, setiap hari Nabi selalu menyantuni seorang nenek buta keturunan Yahudi. Nenek itu mengemis di ujung jalan. Nabi selalu menyisihkan makanan untuk nenek, tanpa si nenek tahu siapa yang memberinya makanan.

Mengesankan nabikah perempuan tua itu, sehingga Rasulullah menaruh perhatian padanya? Sama sekali tidak. Nenek itu justru sering mengumpat dan menyumpahi dirinya. Tapi, Nabi tak ambil pusing. Ia tetap memberi makanan, tanpa pernah sedikit pun mengatakan bahwa dialah Muhammad yang sering dijelek-jelekkan si nenek pada banyak orang.

 

Sepeninggal Rasulullah SAW, Abu Bakar meneruskan kebiasaan ini. Ia memberi makan si nenek. Namun ketika menyuapi, si nenek merasakan makanan dan cara menyuapi yang diberikan Abu Bakar tak sama dengan yang biasa ia terima. ”Biasanya aku mengunyah makanan yang lebih ringan, renyah, dan enak rasanya. Yang menyuapi pun penuh kelembutan. Kenapa kali ini lain?” ungkap si nenek.

 

Abu bakar menjelaskan, orang yang biasa memberinya makan telah meninggal. Si nenek bertanya, ”Siapakah orang yang biasa memberikan makanan padaku?” Dengan bergetar menahan rasa, Abu Bakar menjawab, ”Dialah Muhammad utusan Allah.”

 

Si nenek terdiam seketika. Ia terpaku. Entah mengapa hatinya mengharu biru. Betapa selama ini dia sering menjelek-jelekkan dan mencaci maki Nabi Muhammad pada orang-orang. Tapi, justru Nabilah yang paling peduli padanya, terus, tak pernah putus, sekotor apa pun fitnah dari mulut si nenek. Serta-merta dia mengikrarkan diri untuk masuk Islam.

 

Dari kisah ini, kita dapat merenung, seandainya kita yang bertemu dengan nenek ini, mungkinkah kita sudi menolehnya. Sudah buta, jelek, miskin, suka menghina lagi. Berat memberikan sedekah padanya. Rasanya masih banyak orang yang lebih pantas menerima.

Tapi, Nabi memilih sikap yang berbeda. Beliau memberi tanpa harap balas jasa. Meskipun sering dihina, Nabi tak pernah memberitahukan pada si nenek bahwa dialah Muhammad, orang yang dihinanya. Dengan ikhlas Nabi memberi. Saat ajal menjemput, barulah buahnya terlihat.

 

Kisah di atas bukan satu-satunya contoh kemuliaan hati Rasulullah SAW. Pada masa-masa awal penyebaran Islam, beliau kerap diludahi, dilempari batu, bahkan dilempari kotoran ketika sedang beribadah. Marahkan Rasulullah? Tidak. Beliau tetap tersenyum, seraya mengucapkan doa bagi yang mendzaliminya. Hanya doa, dan bukan serapah, umpatan, atau kutukan. Sungguh teladan yang indah dari utusan Allah yang berhati mulia.

Jadilah Ahli Manfaat

Posted on August 30th, 2009 in Tak Berkategori by muthi  Tagged

Orang yang ketika beribadah hanya memberikan manfaat kepada dirinya saja, biasanya dikenal sebagai ‘ahli ibadah’. Sedangkan orang yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain saya istilahkan sebagai ‘ahli manfaat.’

 

 Dalam mendekatkan diri kepada Sang Khalik, ‘ahli ibadah’ lebih mengedepankan ego pribadi. Sedangkan ‘ahli manfaat’, sambil mendekat kepada Sang Khalik ia juga sekaligus berharap orang lain pun ikut mendekat kepada Sang Khalik. Dengan kata lain ‘ahli manfaat’ tidak ingin masuk surga sendirian.

 

Dalam hal amal, saat ‘ahli ibadah’ meninggal dunia amalnya terputus. Sedangkan ‘ahli manfaat’ amalnya terus melaju dan mengalir. Semakin banyak manfaat yang diberikannya kepada orang lain, mereka akan semakin dicintai Allah. Para ahli manfaat akan terus berupaya menggapai cinta Allah dengan cara berlomba menebar manfaat kepada sesama. Semakin ia ingin dekat pada Allah, semakin banyak pemetik manfaat dari aktivitas yang dilakukannya.

Ya Nabi Salam Alaik

Posted on August 29th, 2009 in Tak Berkategori by muthi  Tagged

Rasulullah Shallallahu alihi wa alihi wa sohbihi wa sallam merupakan makhluk yang paling mulia di sisi Allah. Bahkan Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih dicintai dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Ini merupakan suatu hal yang pasti dan disepakati tanpa ada keraguan sama sekali. Bahkan merupakan suatu ijma’ ulama ahli sunnah wal jama’ah bahwa “Tanah yang menghimpit jasad Rasulullah di dalam kuburnya, merupakan tanah yang paling mulia, bahkan lebih mulia dari surga, arsyi dan kursy”.

 

Maka betapa Allah ta’ala mendidik ummat untuk mengagungkan dan menghormati kekasih dan utusannya ini, sehingga Allah menurunkan banyak ayat di dalam AlQuran yang isinya memuji Rasulullah dan menunjukkan betapa tinggi kedudukan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Firman Allah : “Sungguh engkau (wahai Muhammad) berada di atas suatu budi pekerti yang amat luhur”. Padahal yang mengajarkan budi pekerti kepada ArRasul tidak lain dan tidak bukan adalah Allah Ta”ala, bersabda Rasulullah : “Tuhan ku telah mengajarkan akhlak dan adab kepadaku, dan sangat sempurna di dalam mendidikku”. Berkata “Aisyah : “Akhlak Rasulullah adalah AlQuran”. Maka di bulan Rabiul Awwal, haruslah seorang mu’min mengagungkan bulan yang mulia ini, sebagai lambang pengagungannya terhadap Rasul. Sebab bulan ini merupakan bulan kelahirannya Rasulullah.

 

Di dalam hadist disebutkan akan sikap Rasulullah terhadap hari kelahirannya, sehingga disebutkan bahwasanya Beliau ditanya mengapa berpuasa di hari senin ? Maka dijawab : “Di hari senin itulah aku dilahirkan dan diutus oleh Allah Ta’ala”. Rasul pun merayakan hari kelahirannya sendiri. Ulama di dalam menjelaskan hadist ini mengatakan bahwa perayaan atas kelahiran Rasulullah merupakan hal yang telah dilakukan sejak masa beliau bahkan oleh beliau sendiri, akan tetapi cara merayakan nyalah yang berbeda. Sehingga Rasul merayakannya dengan berpuasa, ada pula yang merayakannya dengan memberi makan kepada orang banyak, ada pula yang merayakannya dengan berdzikir dan bersolawat kepada beliau.

 

Ketika Doa Terhalang Makanan Haram

Posted on August 29th, 2009 in Tak Berkategori by muthi  Tagged
Tersebutlah seorang lelaki yang telah melakukan perjalanan jauh. Rambutnya kusut masai penuh debu. Ia berjalan tertatih-tatih dengan membawa sebuntal pakaian dan bekal di pundaknya.
Setelah sekian lama berjalan, ia berhenti. Matanya memandang ke langit. Ia teringat Tuhannya. Seketika itu pula tangannya menengadah. “Ya Rabb aku minta pertolonganmu. Ya Rabb aku minta rahmat dan kasihmu. Ya Rabb aku minta keselamatan dari-Mu”pintanya berulang-ulang. Ia tampak khusyu berdoa.Lelaki yang berkomentar tersebut adalah Rasulullah SAW. Sedangkan kisah ini berasal dari Abu Hurairah yang diriwayatakan Imam Muslim dalam Shahih-nya.Ya, makanan haram multi efek sifatnya. Ada banyak kerugian yang akan diderita seseorang yang menyengajakan diri mengonsumsinya. Salah satu siksaan yang Allah SWT timpakan adalah tidak diterimanya doa-doa mereka. Padahal, tanpa doa seorang Muslim tidak ada apa-apanya. Bukankan doa adalah senjata orang-orang beriman?

Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh
Allah”. Apa jawaban Rasulullah SAW, “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya,
sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka
neraka lebih layak baginya.” (HR At-Thabrani).

 

Diterimakah doanya? Seorang lelaki mulia berujar, “Sesungguhnya Allah menolak doa lelaki malang itu.  bagaimana doanya akan terkabul, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan perutnya dikenyangkan dengan makanan haram!”

Tangisan sang nabi

Posted on August 27th, 2009 in Tak Berkategori by muthi  Tagged

Setiap pohon yang tidak berbuah, seperti pohon pinus dan pohon cemara, tumbuh tinggi dan lurus, mengangkat kepalanya ke atas, dan semua cabangnya mengarah ke atas. Sedangkan semua pohonnya yang berbuah menundukkan kepala mereka, dan cabang-cabang mereka mengembang ke samping.

Rasulullah adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.”

Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau di hina, dan disiksa dengan keji.

Saat beliau berdakwah di Thaif, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Tetapi penduduk Thaif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran darah.

Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Saw. menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah Saw.

Menikmati Kritik Dan Celaan

Posted on June 16th, 2009 in Tak Berkategori by muthi  Tagged

Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala dirinya ditimpa kritik, celaan, atau penghinaan orang lain. Bagi orang yang lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah dan resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dengan memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dengan cara-cara mengorek-ngorek pula aib lawannya tersebut atau mencari dalih-dalih untuk membela diri, yang ternyata ujung dari perbuatannya tersebut hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan batin dan kegelisahan.

 

Persis seperti orang yang sedang duduk di sebuah kursi sementara di bawahnya ada seekor ular berbisa yang siap mematuk kakinya. Tiba-tiba datang beberapa orang yang memberitahukan bahaya yang mengancam dirinya itu. Yang seorang menyampaikannya dengan cara halus, sedangkan yang lainnya dengan cara kasar. Namun, apa yang terjadi? Setelah ia mendengar pemberitahuan itu, diambilnya sebuah pemukul, lalu dipukulkannya, bukan kepada ular namun kepada orang-orang yang memberitahukan adanya bahaya tersebut.

 

Lain halnya dengan orang yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian akhlak. Ketika datang badai kritik, celaan, serta penghinaan seberat atau sedahsyat apapun, dia tetap tegar, tak goyah sedikit pun. Malah ia justru dapat menikmati karena yakin betul bahwa semua musibah yang menimpanya tersebut semata-mata terjadi dengan seijin Allah Azza wa Jalla.

 

Allah tahu persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan memberitahunya dengan cara apa saja dan melalui apa saja yang dikehendaki-Nya. Terkadang terbentuk nasehat yang halus, adakalanya lewat obrolan dan guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat pedas dan menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama, orang tua, sahabat, adik, musuh, atau siapa saja. Terserah Allah.

Matinya Hati

Posted on May 16th, 2009 in Tak Berkategori by muthi

Banyak orang ketawa-ketiwi tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.

Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih.

Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.


Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut.
Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana.

Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya?

Next Page »